Pasar Baru kawasan wisata belanja yang terletak di pusat Jakarta terbagi menjadi enam kawasan utama, yakni Metro Pasar Baru, Metro Atom, Harco Pasar Baru, Pasar Baru, Istana Pasar Baru, dan kawasan pintu air. Kawasan belanja yang sudah ada sejak tahun 1820 dan merupkan warisan dari masa penjajahan Belanda. Pasar Baru menyediakan berbagai macam barang mulai dari pakaian hingga barang elektronik. Di Metro Pasar Baru kita dapat menemukan berbagai toko yang menjual pakaian, perhiasan, obat-obatan, jam tangan, dan masih banyak lagi. Sedikit berbeda jika kita beranjak dari Metro Pasar Baru ke kawasan Metro Atom.
Kawasan perbelanjaan Metro Atom menawarkan banyak toko yang menjual kamera ataupun barang elektronik lainnya. Metro Atom sudah dikenal di kalangan pecinta fotografi sebagai kawasan jual-beli kamera analog ataupun digital SLR dengan harga yang cukup murah. Berbagai kamera analog dari berbagai merek dan tahun pembuatan bisa ditemukan di Metro Atom. Selain kamera-kamera analog di pasar ini kita bisa menemukan berbagai peralatan studio foto seperti lampu dan background dengan harga yang cukup murah. Berbagai macam lensa dengan berbagai ukuran juga bisa ditemukan di sini.
Toka Aneka Foto yang sudah ada di Pasar Metro Atom sejak 1990 bisa dijadikan referensi jika mencari kamera dan peralatan studio. Toko yang sudah terkenal di kalangan pecinta fotografi yang berada di Jakarta. Toko ini terbilang sangat lengkap karena menyediakan kamera dari berbagai merek dan jenis. Tidak hanya DSLR saja yang di jual di sini kamera pocket juga dijual di toko ini. Aksesoris kamera seperti vertical grip, flash, dan berbagai filter untuk lensa juga tersedia di sini. Harga yang ditawarkan juga cukup murah jika dibandingkan dengan toko-toko kamera yanga ada di Jakarta.
Selain Aneka Foto di pasar ini masih banyka toko-toko yang menjual dan menerima jasa servis kamera baik analog ataupun digital. Lebih banyak pilihan untuk penyuka jenis kamera analog di pasar ini. Kamera analog bawah air ataupun polaroid juga bisa ditemukan di pasa Metro Atom. Pasar Metro Atom bisa menjadi alternatif belanja bagi para pencinta fotografi.
Galeri Foto Jurnalistik Antara atau biasa juga dikenal dengan singkatan GFJA setiap tahunnya mengadakan workshop fotografi jurnalistik yang akan diakhiri dengan pameran yang diikuti oleh para peserta workshop. Tahun ini pameran yang digelar oleh angkatan XV GFJA berjudul Enormousight. Pameran yang sudah digelar sejak 21 Mei 2010 dan akan berakhir pada 21 Juni 2010 ini diikuti oleh 28 fotografer yang sudah mengikuti workshop sebelumnya selama kuarang lebih selama tiga bulan.
Kata Enormousight mempunyai arti ‘melihat sesuatu lebih luas dan menyeluruh’.Foto-foto yang ada di pameran fotografi kali ini bisa dibilang cukup sederhana dan kebanyakan bisa ditemui di sekitar kita. Memang itu lah yang diinginkan oleh para peserta dengan tema yang mereka angkat, obyek-obyek sederhana yang bisa diapandang secara luas. Para fotografer-fotografer yang bergabung di dalam pameran GFJA ini memiliki sudut pandang yang lain tentang keadaan sekitar. Dari balik kameran, mereka bisa dengan jeli menangkap momen yang sepertinya sudah biasa kita lihat sehari-hari tapi ternyata mempunyai makna lain.
Seperti foto essay yang dibuat oleh Titah Hari Parbowo yag sehari-hari bekerja pada sebuah tabloid kuliner menyajikan foto yang berebeda. Foto essay dengan judul “Srikandi-srikandi Malam Sudirman” mengungkap sisi lain ibukota Jakarta yaitu Jalan Sudirman pada malam hari. Di foto ini dikisahkan enam orang perempauan yang bergelut dengan malam di Jalan sudirman, Jakarta. Enam perempuan ini menjadikan malam di Sudirman untuk mencari rejeki. Ada beberapa petikan wawancara antara sang fotografer dengan para srikandi ini salah satunya dengan Haliamah. Halimah yang sudah emapat puluh tahun berdagang di kios, kini menuai hasil dari perjuangannya anaknya sudah ada yang berhasil menajdi sarjana. “Alhamdulillah, dari hasil dagang, anak udah ada yang jadi sarjana,” ungkapnya penuh rasa syukur.
Pameran foto yang sebelumnya telah dibuka oleh Mohammad Nuh selaku Menteri Pendidikan Republik Indonesia ini akan berlangsung dengan berbagai kegiatan. Pada 2 Juni 2010 akan diadakan seminar dengan pembicara Feri Latief (Kontributor National Geographic Indonesia ) di UMN (Universitas Mulimedia Nusantara). Sedangkan pada 8 Juni akan diadakan juga seminar dengan menghadirkan Bea Wiharta (Reuters Photographer) di ABFI Institute PERBANAS. Jay Subiakto juga akan hadir sebagai pembicara pada 19 Juni di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jl. Antara No.61 , Pasar Baru, Jakarta.
Atrium Bandung Super Mall(BSM) cukup ramai dipadati pengunjung yang hadir pada peluncuran prodak kameraterbaru Olympus E-PL 1. Acara peluncuran E-PL1 ini juga sudah diadakan di Surabaya, Yogyakarta, Pekanbaru, dan Medan. Dengan mengusung Darwis Triadi dan Zivanna Letisha Siregar sebagai ikon dari produk ini. Acara yang diadakan sejak 28 Mei dan berakhir pada 30 Mei ini diisi dengan berbagai macam workshop dan pameran foto.Pameran foto oleh Darwis Triadi, Arbain Rambey, Makarios Soekojo, id olympia, dan fourthird club surabaya dengan menggunkan kamera E-P1, E-P2, dan EPL-1. Selain itu workshop tentang fotografi pun diadakan sejak hari pertama hingga hari terakhir pelaksaanan peluncuran prodak ini di BSM. Pada 28 Mei Arbain Rambay memberikan workshop dengan tema " Proyeksi Masa Depan Fotografi ". Darwis Triadi juga memberikan workshop tentang fotografi yaitu tentang " Discover Your Wonder". Hari kedua yang diisi oleh Darwis Triadi direspon dengan cukup baik oleh pengunjung apalagi ketika sesi hunting bersama Darwis yang pada saat itu membawa dua model. Makarios Sokojo yang sudah terkenal sebagai fotografer art dan landscape memberikan workshop mengenai " Membentuk Warna Optimal" .
Olympus yang sejak dahulu sudah bergerak di bidang optik dan juga gambar sudah tidak asing lagi mengeluarkan prodak-prodak kameranya. Kali ini Olympus mencoba membuata terobosan baru dengan EPL-1 setelah sebelumnya telah meluncurka E-P1 dan EP-2. EPL-1 masuk dalam kategori Pen Series Olympus. Berangkat dari ide untuk membuat kamera dengan ukuran dan desain kompak, ringan, dan juga memudahkan pengguna untuk memotret di mana saja, kapan saja terciptalah kamera E-P1, E-P2, dan yang terbaru EPL-1. EPL-1 merupakan penyempuraan dari dua kamera sebelumnya. Fitur-fitur yang ditawarkan dari kamera ini adalah 12,3 megapixelhigh-speed live mos image sensor, built-in image stabilizition, HD movie recording, 6 art filters, dust reduction systeam, intellegent auto with live guide dan i-enchance, multi-aspect, dan built-in flash.
EPL-1 dilengakpi dengan 12,3 megapixelsudah menjawab pertanyaan apakah resolusi dari gambar yang dihasilkan sama dengan hasil gambar DSLR. Kebanyakan DSLR yang ada beresolusi 10 megapixel jadi kamera dengan desain kompak dan ringan bisa memberikan hasil yang tak kalah dengan DSLR. Selain itu EPL-1 bisa meggunkan lensa DSLR dengan merek apa saja tetapi harus menggunakan adaptor yang dijual terpisah. Untuk yang senang memotret di bawah laut kamera ini juga sudah bisa menggunakan underwater cover. Live guide yang menjadi salah satu fitur di dalam kamera ini juga mempermudah penggunanya yang masih belum mahir tentang teknik-teknik fotografi seperti bluring atau freezing.
Dengan fitur-fitur yang memudahkan membuat kamera ini mempunyai berbagai keunggulan jika dibandingkan dengan DSLR yang sudah ada. Modelnya yang kompak dan kecil memudahkan untuk mengabadikan momen-momen di manapun. Tetapi harga yang masih yang tinggi membuat kamera ini sulit dijangkau oleh kalangan yang menggembari fotografi tetapi dengan kocek yang tidak terlalu banyak.
·Bagaimana industri dan aktivitas jurnalisme dimasa depan (kurang lebih 10 tahun mendatang): citizen journalism vs professional journalism
Aktivitas jurnalisme pada sepuluh tahun mendatang akan dipengaruhi oleh keberadaan teknologi informasi pada saat itu. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang ada sekarang akan membuat suatu sistem komunikasi yang berbeda dengan yang ada saat ini. Semakin mudahnya akses informasi maka siapapun akan dapat membagi dan mencari informasi. Orang yang berpengaruhjustru adalah orang yang memiliki informasi.
Jurnalis yang memiliki tugas sebagai pencari dan penyampai informasi juga akan mengalami perubahan dalam menjalani aktivitas jurnalisme. Warga masyarakat yang bukan jurnalis juga dapat menjalankan peran jurnalis atau disebut sebagai citizen journalism dengan semakin terbuka dan bebasnya arus informasi.
Kecenderungan akan perubahan itu dapat dilihat dari perkembangan media yang ada sekarang. Internet yang semakin banyak mudah di akses menarik minat khalayak pada media yang menawarkan banyak hal dibandingkan denganmedia tradisional. Semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam memberikan informasi.
Model bisnis, Hume menjelaskan, akan terjadi penurunan untuk surat kabar, besar dan kecil, dan media mainstream lain yang diandalkan. Periklanan pada media tersebut akan kalah oleh situs-situs di internet.
Pekerjaan penting yang dilakukan wartawan, seperti mengumpulkan, menganalisa, mengontekstualisasikan dan penyebaran informasi, telah mulai bermigrasi ke web dan di tempat lain.
Len Downie, The Washington Post, juga telah mengevaluasi rintangan yang dihadapi jurnalisme cetak menjadi transisi ke web - termasuk PHK massal dan pendapatan iklan jatuh.
Jika dikaitkan dengan sumber daya alam media massa cetak, yaitu pohon/kayu sebagai bahan baku pembuatan kertas maka kelanjutan media cetak pun di masa depan akan sulit. Hal ini dikarenakan sumber daya alam semakin sedikit, jika tidak ditemukan suatu sumber daya substitusi maka media cetak akan menghilang karena tidak ada lagi bahan untuk membuat cetakannya. Khalayak pun akan beralih pada media massa yang lebih modern, canggih, mudah dan efisien.
Len Downie, mengusulkan beberapa model inovatif untuk industri media cetak, yaitu termasuk dukungan kelembagaan atau filantropis, sistem micropayment dan format media baru.
Kemungkinan perubahan tren media dari jurnalisme tradisional menjadi jurnalisme modern dalam beberapa tahun ke depan, ini tidak semuanya buruk, dengan adanya wadah seperti internet, kita mendapatkan jurnalisme partisipatif, di mana pengguna dapat menanggapi dan bertukar informasi. Ini merupakan perubahan dimana dari kalangan elit yang menciptakan arus informasi menjadi jurnalis warga. Pengguna akan tergugah pada berita dan memiliki kesempatan untuk bereaksi melalui jaringan sosial, video, blog, sehingga akan menciptakan rasa komunitas. Ini yang dikatakan Hume, sebagai kemungkinan munculnya "rasa baru dari ruang publik."
Tetapi ada bahaya dalam mengandalkan hanya pada sumber-sumber informasi baru. Tidak semua warga negara memiliki keahlian seorang jurnalis profesional. Jurnalisme profesional telah bertahun-tahun belajar tentang subjek dan sumber-sumber. Citizen journalism mungkin kehilangan konteks verifikasi, transparansi, perasaan mandiri dan megafon besar media mainstream. Namun kita juga bisa mendapatkan beberapa hal: keaslian, dari saksi mata; kontinuitas perhatian sebuah cerita; dan verifikasi, melalui sumber orang banyak.
Pandangan Hume yang menganggap itu mungkin untuk mengganti beberapa fungsi jurnalisme tradisional dengan sumber daya media baru, yang dapat membangun arsip online yang besar, dari mengumpulkan dan terus mengembangkan sumber, memvisualisasikan data dalam menangkap hal, dan keterlibatan penggunanya adalah cara lain melihat sisi positif perkembangan jurnalisme di masa depan.
Selain kekhawatir yang telah disebutkan oleh Hume ada permasalahan lain yaitu bahasa jurnalistik yang juga akan bergeser. Adanya pergeseran dari penggunan bahasa jurnalistik yang digunakan oleh citizen journalism yang belum tentu menguasi bahasa dalam konteks jurnalistik.
Citizen journalism bukan professional journalism. Namun, keberadaanya tentu akan mewarnai dunia jurnalisme. Professional journalism memiliki etika tersendiri yang mengaturnya. Citizen journalism juga perlu diatur agar tidak melanggar norma-norma yang ada. Keduanya akan bisa saling bersinergis dalam menyajikan berita dengan ciri khasnya masing-masing. Bukan saling meniadakan. Pada akhirnya, khalayak juga yang menilai dan memilih mana informasi yang dapat diyakini kebenarannya dan kredibilitas dari media yang ada.
·Bagaimana peran media sosial (facebook, twitter dan sejenisnya) dalam penyebaran informasi dan aktivitas jurnalisme?
Teknologi komunikasi yang semakin berkembang saat ini membawa dampak pada perkembangan internet di kalangan masyarakat. Sejak pertama kali hadir hingga kini internet bisa dikatakan mempermudah kehidupan masyarakat, kita bisa melakukan hampir semua hal di internet dengan satu kali klik saja. Internet yang semakin berkembang juga mempengaruhi kinerja dunia jurnalisme karena sudah mulai ada pergeseran kebiasaan di dalam masyarakat. Seperti contohnya pergeseraan kebiasaan membaca koran menjadi hanya membaca situs-situs berita seperti cnn.com, detik.com, atau vivanews.com. Pergeseran kebiasaan di masyarakat ini lalu diikuti dengan berbagai media massa cetak, televisi, ataupun radio baik lokal atau internasional yang membuat situs-situs berita yang mana di dalam situs tersebut sudah dikatakan lengkap antara audio dan juga visual. Situs-situs seperti ini sangat membantu karena setiap orang saat membutuhkan sesuatu yang simple tetapi sudah lengkap di dalam sebuah media untuk menyampaikan informasi-informasi yang ingin disampaikan.
Perubahan yang ada di masyarakat yang juga bisa dilihat oleh pemilik-pemilik media saat ini. Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa saat ini masyarakat lebih senang melakukan kegiatan hanya dengan satu kali klik saja, bahkan yang berkembang sekarang ini masyarakat lebih senang untuk ikut berkecimpung langsung di dalam pemberitaan ataupun memberikan saran ataupun kritik secara langsung. Hal-hal yang diinginkan oleh masyarakat sekarang ini telah diberikan oleh media massa. Hampir semua situs berita memiliki kolom yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menuliskan informasi-informasi ataupun berita selayaknya kerja para jurnalis.
Selain kolom-kolom seperti itu bisnis media juga memanfaatkan teknologi internet, sebagai mediumnya adalah jejaring sosial. Jejaring sosial yang semakin menjamur dan juga minat masyarakat pada jejaring sosial sangat tinggi maka media juga memanfaatkan hal ini sebagai saluran untuk memberitakan informasi-informasi yang ada. Loyalitas masyarakat terhadap sebuah jejarinng sosial menjadi peluang yang sangat besar pada bisnis media massa sekarang ini.
Facebook misalnya yang sudah memiliki puluhan juta pengguna dan saat ini masih menjadi pilihan masyarakat dimanfaatkan oleh beberapa media untuk menyebarkan informasi. Misalnya ANTARA Foto yang membuat akun di Facebook dan di dalam akun ini setiap foto-foto jurnalistik yang baru akan langsung diberikan link untuk mengakses foto-foto tersebut secara utuh. Selain itu melalui Facebook banyak dari para jurnalis yang memiliki akun pribadi yang bisa diakses oleh masyarakat luas. Di dalam akun-akun pribadi ini biasanya para jurnalis menuliskan informasi sesuai dengan keinginnya tanpa melanggar etik atau aturan kerja yang ada.
Jejaring sosial Twitter juga menjadi alternatif lain bagi media untuk menginformasikan berita-berita yang ada. Banyak sekali akun-akun media massa yang bisa ditemukan di Twitter. Hampir sama dengan apa yang dilakukan ANTARA Foto di Facebook, akun-akun milik detik.com misalnya selalu memperbaharui informasi-informasi dan memberikan link pada status yang telah dibuatnya.
Hal-hal seperti ini sebenarnya memudahkan para pengguna media karena dapat menghemat waktu. Di sisi lain para jurnalis juga akan sangat terbantu untuk menyebarkan informasi karena bisa lebih cepat dan tepat sasaran karena masyarakat bisa memilih berita apa saja yang diinginkan.Tetapi ada kekhawatiran dengan mudahnya masyarakat mengakses berbagai jejaring sosial akan mengakibatkan minat untuk membaca media dalam versi konvesional semakin menurun. Selain itu penggunan media jejaring sosial belum mempunyai aturan atau perundang-undangan yang mengatur penggunaan jejaring sosial. Bisa saja isi jejaring sosial menyangkut SARA dan mengundang konflik baru.
Perkembangan e-book, e-paper, dan e-magazine sangat pesat beberapa tahun ke belakang. Di tambah lagi dengan peluncuran-peluncuran piranti atau alat untuk membaca e-book, e-paper, dan e-magazine yang sudah tersedia di pasaran. Seperti halnya iPad yang diluncurkan oleh Apple baru-baru ini merebut banyak pembeli. Apalagi dengan isu-isu pemanasan global yang dikaitakan dengan pemakaian kertas untuk pembuatan majalah, koran, dan buku maka e-reader menjadi sebuah jawaban yang pas pada kondisi yang sedang berkembang sekarang ini.
Sudah ada beberpa e-reader yang ada di pasaran seperti iPad keluaran Apple, iRex keluaran Philips, Kindle keluaran Amzon, dan juga Booken. Piranti-piranti sudah beredar luas di pasaran dan peminatnya sangat banyak. Dari segi ukuran kebanyakan dari e-book reader ini berkisar 8 inci sampai 10 inci.Kebanyakan dari e-reader yang telah tersedia di pasaran masih berbentuk kaku dan tidak fleksibel walaupun sudah menggunakan teknologi touchscreen.
Dengan hadirnya sebuah teknologi yang bernama e-ink memungkinkan sekali jika 10 tahun mendatang e-reader akan berukuran 113.3 x 63 x 11.95 mm. E-reader masa depan ini bisa dibuka menjadi ukuran 176x250 mm dengan ketebalan2 mm. Dengn e-reder masa depan ini maka sangat memudahkan piranti untuk di bawa ke mana-mana dan fleksibel karena bisa dilipat menjadi seukuran kertas B5. Selain itu piranti ini juga tergolong cukup ringan yaitu 107.7 gram. Selain bisa dilipat-lipat piranti ini juga berreoslusi tinggi jadi gambar atau tampilan yang dihasilkan sudah sangat bagus dan berwarna.
Dengan aplikasi yang memudahkan pekerjaan penggunanya, seperti akses web, email, video, musik, peta yang memang sudah ada pada e-reader sebelumnya. Kita dapat berandai-andai. Dalam 10 tahun ke depan, teknologi e-reader ini akan lebih banyak fungsinya, seperti fungsi GPS, fungsi penerjemah bahasa sehingga selain mudah dibawa dalam perjalanan juga bermanfaat dalam perjalanan sebagai pemandu yang juga multifungsi.
Nantinya, e-reader ini dapat digunakan bagi orang dengan mobilitas tinggi dan tingkat kesibukan yang besar sehingga membutuhkan piranti yang mudah dibawa,serta efektif, dan efisien.
Banyak pertanyaan yang menanyakan apakah surat kabar konservatif akan tetap bertahan di era digital seperti ini? Pertanyaan ini mungkin bisa terjawab dengan banyaknya perusahaan surat kabar yang sudah guling tikar karena penggemar surat kabar sudah mulai menurun. Tapi ada juga perusahaan surat kabar yang tetap berdiri dan mensiasati masalah ini dengan membuat format digital dari surat kabar konservatif. Format seperti ini lebih banyak digemari daripada surat kabar konservatif karena format ini lebih mudah dan biayanya jauh lebih murah. Setelah banyak bermunculan format-format surat kabar digital muncul lah piranti untuk memudahkan membaca format digital ini. Seperti yang barus saja diluncurkan oleh Apple yaitu iPad di mana piranti ini bisa membaca format digital majalah, surat kabar, dan juga buku. Walaupun sebenarnya piranti-piranti seperti ini sudah ada sebelumnya, tapi iPad memiliki banyak kegunaan. Piranti-piranti sebelum iPad dan juga iPad memiliki kesamaan yaitu bentuknya yang masih kaku dan juga ukuran yang hampir sama. LG mengeluarkan sebuah piranti yang kegunannya sama dengan iPad dan piranti-piranti sejenis tapi dengan berbagai kelebihan. Piranti keluaran LG ini barulah prototype dengan menggunakan teknologi e-ink. Di dalam peluncurannya piranti dari LG merupakan piranti pembaca e-paper dengan ukuran terbesar saat ini. Prototype ini hadir dalam ukuran 19 inci yang bisa dibilang hampir sama dengan ukuran surat kabar konservatif dan dengan ketebalan 0,3 mm. Sama seperti iPad dan piranti lainnya pengoperasian piranti ini juga dengan menggunkan layar sentuh. Selain ukurannya yang cukup besar ada satu lagi kelebihan dari piranti ini yaitu piranti ini fleksibel atau bisa dilipat-lipat layaknya surat kabar konservatif. Piranti ini merupakan inovasi dari piranti-piranti yang pernah ada sebelumnya. Walaupun piranti ini masih berebentuk prototype, tahun ini LG akan meluncurkan piranti serupa dengan ukuran yang lebih kecil yaitu 11,5 inci. Hadirnya piranti-piranti digital seperti ini mungkin bisa dibilang ancaman bagi media massa konvensional yang ada seperti surat kabar, majalah, dan buku. Bisnis media massa pun akan berubah dari media massa cetak saja menjadi media massa konvergensi. Tapi, di era yang sekarang ini piranti seperti ini sangatlah dibutuhkan dimana mobilitas individu yang sudah semakin tinggi maka memerlukan piranti-piranti semacam ini untuk memudahkan aktivitas sehari-hari. Pergesaran dari era membaca media massa cetak konvensional menjadi media massa digital. Jelas fenomena inilah yang akan hadir ketika piranti-piranti semacam ini sudah semakin banyak dimiliki masyarakat.
Jika dilihat dari dampak yang ada dengan analisis yang dikemukan oleh Evertt M. Rogers yaitu interactivity, demassified, dan asynchronous. Di dalam interactivitiy terdapat tiga jenis yaitu human to human, human to systeam, dan systeam to systeam. Yang di maksud dengan human to systeam di dalam teknologi ini adalah proses di mana pengguna teknologi ini memberikan perintah kepada sistem operasi yang ada di dalam piranti ini. Misalnya pengguna mengklik logo menu maka dengan sendirinya sistem akan mengirimkan permintaan (dlm bentuk kode) kepada server untuk meminta akses ke menu (di server). Sedangkan pada systeam to systeam dalam teknologi ini adalah bagaimana komunikasi antar piranti keras dengan menggunakan pengkodean atau bahasa pemrograman. Dampakyang terjadi jika dilihat dari demassified dalam teknologi ini adalah pengguna teknologi ini secara bebeas bisa memilih surat kabar apa yang akan di baca atau artikel-artikel apa saja yang akan dibaca bukan lagi surat kabar yang memaksakan informasi tapi pengguna yang memiliki kendali penuh atas apa yang diinginkannya. Dilihat dari keserempakan penerima informasi jelas di dalam teknologi ini tidak berlaku karena tidak semua masyarakat memiliki piranti ini dan seperti yang dijelaskan pada demassified kalau pengguna bisa bebas memilih informasi apa saja yang ia sukai dan butuhkan.
Dampak sosial dari teknologi keluaran LG ini adalah semakin jarangnya interaksi antar individu secara tatap muka, terdapat kesenjangan antara yang memilki piranti dan yang tidak memiliki. Dampak ekonomi dengan kemunculan teknologi adalah akan lebih banyak perusahan media massa cetak yang gulung tikar dan para loper koran juga akan kehilangan pekerjaan. Tetapi secara keseluruhan dengan adanya teknologi ini mempermudah mobilitas masyarakat yang cenderung ingin sesuati yang instan dan bisa mengurangi pemakaian kertas yang selama ini menjadi isu lingkungan.
Referensi:
http://goodereader.com/blog/electronic-readers/innovative-tablet-size-flexible-electronic-paper-display/, Diakses pada 3 April 2010, 17.30 WIB http://www.digitaltrends.com/international/lg-display-reveals-news-worthy-flexible-e-paper/, Diakses pada 3 April 2010, 17.30 WIB http://nexus404.com/Blog/2010/01/15/lg-19-inch-epaper-display-prototype-revealed-lg-teases-a-large-format-epaper-thats-only-3mm-thick/ ,Diakses pada 3 April 2010, 17.30 WIB
Produsen elektronik besar asal Jepang, Sharp berhasil mengembangkan LCD monitor yang mampu menampilkan tayangan 3D tanpa membutuhkan kacamata bantuan.
"Sharp sendiri telah mengembangkan teknologi 3D sejak 2002, yang sempat terkendala resolusi gambar yang kurang cerah dan terang. Sejak itu, kami memfokuskan penelitian pada kualitas layar dan siap meluncurkan serangkaian tipe layar 3D, dengan rencana produksi akan berlangsung pada bulan September di Jepang," ujar Manager Bisnis LCD Sharp Yoshisuke Hasegawa.
Teknologi layar 3D sangat mungkin untuk disematkan di layar ponsel. Sutradara film dengan format tiga dimensi (3D) Avatar, James Cameron mengaku sangat yakin jika teknologi 3D pun akan mulai menggempur layar ponsel.
Menurut Cameron, teknologi yang semakin canggih tidak akan menyulitkan para pengembang untuk membuat aplikasi berformat 3D di smartphone. Bahkan, lanjut Cameron, justru di sinilah tantangan yang menjadi pemicu teknologi tersebut hadir.
Ditambahkannya, apapun cara yang dilakukan dengan sebuah aplikasi, atau dengan sebuah interaksi, semuanya dilakukan melalui sebuah layar, baik layar desktop, laptop, maupun layar kecil. Bahkan semua hal tersebut akan dirasa sangat kurang jika tidak melibatkan teknologi selular yang saat ini sedang berkembang dan menjadi tren di seluruh dunia.
Diketahui, sudah ada beberapa vendor ponsel yang turut mengembangkan ponsel 3D, salah satu di antaranya adalah Nokia. Bahkan Nvidia telah menyiapkan chip khusus dengan Java yang memungkinkan teknologi 3D di ponsel.
Pada Jumat, 2 April 2010, Sharp memulai debut prototipenya dengan memamerkan lara ponsel 3D yang hanya berukuran 3 inci. Layar LCD untuk ponsel yang didemonstrasikan, bisa menjalankan animasi 3D, berteknologi layar sentuh, dan terkoneksi ke kamera yang bisa merekam video 3D.
Jika gambar atau video 3D di televisi kebanyakan membutuhkan kamera khusus untuk melihatnya. Tapi, layar Sharp bisa menampilkan gambar 3D tanpa melalui kacamata khusus. Hal ini karena teknologi Sharp didesain menyajikan gambar berbeda kepada mata kanan dan mata kiri.
Para pengguna monitor tersebut dapat melihat imej tiga dimensi dalam jarak 31 sentimeter tanpa menggunakan kacamata. Penggunaan bantuan kacamata telah diganti oleh Sharp dengan menyematkan teknologi berupa parallax, untuk memberikan ilusi pada mata untuk setiap gambar yang berbeda sehingga lebih hidup.
"Teknologi ini mungkin akan diaplikasikan pada TV di masa depan," ujar Executive Managing Officer Sharp Yoshisuke Hasegawa. Namun, ia mengakui bahwa saat ini tampilan 3D hanya bisa dengan jelas dilihat pada jarak tetap yakni sekitar 30 centimeter dari layar.
Sharp tertarik untuk membuat perangkat itu, karena mereka berpikir teknologi 3D akan tumbuh sebagai mesin portabel yang bisa ditaruh ditengah-tengah ruang keluarga.
Sharp yang terkenal sebagai pemasok panel LCD, nantinya akan menciptakan sebuah layar yang lebih cerah dan lebih tipis dalam menampilkan gambar 3D dengan resolusi yang lebih tinggi dan fungsi layar yang bisa digunakan dengan touch screen.
Dalam era 2D sudah terbukti, infrastruktur dan teknologi tersebut sudah menyebar dari bioskop ke rumah, dan dari rumah ke perangkat mobile. Sharp pun percaya hal yang sama akan terjadi dengan teknologi 3D. Gambar tiga dimensi yang mendiami sebagian besar screen besar sekarang akan hadir juga di handset mobile, seperti ponsel dan lain sebagainya.
Penggunaannya dalam konteks komunikasi
Ponsel merupakan alat komunikasi. Ponsel3D merupakan terobosan dalam teknologi komunikasi ponsel. Perkembangan pesat dalam dunia sistem komunikasi tentunya akan mengubah pola komunikasi yang terjadi di masyarakat selama ini, teknologi komunikasi sangat penting dan dinantikan kehadirannya setiap saat dan setiap waktu.
Sekarang ini ponsel bukan lagi barang tersier. Kepintaran, kecanggihan dan fasiitas yang dimiliki oleh teknologi komunikasi menjadi tolak ukur seberapa besar fungsi dan kebutuhan dari teknologi komunikasi itu bagi penggunanya. Secara nyata jelas terlihat bahwa teknologi komunikasi memberikan keuntungan yang sangat besar bagi penggunanya terutama dalam hal berkomunikasi ( komunikasi tidak begitu rumit seperti dahulu ). Dengan ponsel 3D (tiga dimensi) tentunya juga akan memengaruhi pola komunikasi yang terjadi pada pelaku komunikasi yang menggunakan teknologi komunikasi tersebut. Sistem 3 dimensi yang ada akan memengaruhi pola komunikasi, cara berinteraksi para pengguna ponsel tersebut. Apapun cara yang dilakukan dengan sebuah aplikasi, atau dengan sebuah interaksi, semuanya dilakukan melalui sebuah layar, pada ponsel, melalui layar kecil.
Analisis dampaknya berdasarkan
Tiga perubahan komunikasi setelah ditemukan teknologi komunikasi menurut Rogers.
1.Interactivity
Kemampuan sistem komunikasi baru untuk "berinteraksi" dengan penggunanya, bukan sekedar menjalankan prosedur mekanis pengiriman pesan atau reaksi mekanikal.
Human to Human, teknologi komunikasi berupa ponsel 3D akan memengaruhi interaksi antara manusia kepada manusia. Bagaimana manusia yang menggunakan teknologi tersebut akan berkomunikasi dengan manusia lainnya melalui ponsel 3 Dimensi tersebut. Human to system, bagaimana sebuah sistem Ponsel 3 dimensi memengaruhi manusia dalam berinteraksi dengan sistem baru itu, dan system to system, bagaimana sistem ponsel 3 D tersebut dengan sistem yang lainnya. Dengan sistem 3 Dimensi tentu memengaruhi pola komunikasi yang terjadi, apapun cara yang dilakukan dengan sebuah aplikasi, atau dengan sebuah interaksi, semuanya dilakukan melalui sebuah layar, melalui ponsel 3D, para penggunanya dapat melihat imej tiga dimensi, dengan teknologi berupa parallax, untuk memberikan ilusi pada mata untuk setiap gambar yang berbeda sehingga lebih hidup dan interaksinya pun akan berbeda dengan sistem yang demikian.
2.Demassification
Kontrol sistem komunikasi bergeser dari produsen pesan ke konsumen media. Demassified, artinya sebuah perubahan dari penggunaan secara massal (massification) teknologi komunikasi menjadi penggunaan secara individual (individualization).
Ponsel 3D memiliki potensi demassification tersebut. Sharp tertarik untuk membuat perangkat itu, karena mereka berpikir teknologi 3D akan tumbuh sebagai mesin portabel yang bisa ditaruh ditengah-tengah ruang keluarga.
Dalam era 2D sudah terbukti, infrastruktur dan teknologi tersebut sudah menyebar dari bioskop ke rumah, dan dari rumah ke perangkat mobile. Sharp pun percaya hal yang sama akan terjadi dengan teknologi 3D. Gambar tiga dimensi yang mendiami sebagian besar screen besar sekarang akan hadir juga di handset mobile, seperti ponsel dan lain sebagainya. Jadi, teknologi komunikasi berupa Ponsel 3D pun akan mengalami demassification nantinya.
3.Asynchronous
Kemampuan untuk menentukan waktu pengiriman dan penerimaan pesan pada waktu yang dikehendaki. Pengirim dan penerima tidak harus mengakses perangkat komunikasi pada saat yang bersamaan (tidak serempak). Penggunaan ponsel memang diakses pada waktu yang tidak selalu bersamaan. Penggunanya dapat menentukan kapan akan menggunakannya sehingga tidak menimbulkan keserempakan. Begitu juga dengan Ponsel 3D, penggunanya dapat menentukan waktu pengiriman dan penerimaan pesan pada waktu yang dikehendakinya. Kapan ia akan menggunakan ponsel 3D dan memunculkan gambar 3 dimensi dari ponselnya.
-Dampak Sosial
Rogers menyatakan bahwa komunikasi merupakan dasar dari perubahan sosial, sistem baru dari teknologi komunikasi berupa ponsel 3D akan menimbulkan perubahan sosial yang merupakan dampak sosial dari munculnya teknologi komunikasi ini. Orang-orang yang menggunakannya, pada awalnya hanya golongan tertentu, yang nantinya menimbulkan kelas-kelas sosial tertentu di masyarakat, siapa yang dapat memiliki teknologi komunikasi seperti itu dan siapa yang tidak. Namun, pada akhirnya teknologi komunikasi berupa ponsel 3D ini pun diprediksikan dalam jangka waktu tertentu akan mengalami demassification. Teknologi 3D, gambar tiga dimensi yang mendiami sebagian besar screen besar sekarang akan hadir juga di handset mobile, seperti ponsel dan lain sebagainya seperti Dalam era 2D sudah terbukti, infrastruktur dan teknologi tersebut sudah menyebar dari bioskop ke rumah, dan dari rumah ke perangkat mobile.
-Dampak Ekonomi
Munculnya perangkat teknologi komunikasi berupa ponsel 3D ini tentu memiliki dampak ekonomi. Para produsen jelas berlomba untuk menghasilkan produk yang memiliki potensi pasar tinggi. Sehingga akan memengaruhi transaksi, atau kegiatan jual-beli terhadap teknologi komunikasi ponsel 3D ini. Seperti diketahui, sudah ada beberapa vendor ponsel yang turut mengembangkan ponsel 3D, salah satu di antaranya adalah Nokia. Bahkan Nvidia telah menyiapkan chip khusus dengan Java yang memungkinkan teknologi 3D di ponsel. Teknologi 3D diyakini akan tumbuh sebagai mesin portabel yang bisa ditaruh ditengah-tengah ruang keluarga sehingga potensi pasarnya akan semakin meningkat.